9.12.11

Cinema 72 Hours

KALAULAH disebut hukuman, ini adalah hukuman yang menyenangkan.  Kau dikarantina selama 72 jam tanpa kegiatan apapun selain menonton film dan menonton film dan menonton film.  Hidangan makan pagi-siang-malam dan kudapan ringan dihidangkan langsung ke mejamu sehingga kau tak usah beranjak dan mengalihkan perhatian dari layar proyektor.

Waktu senggang di antara pemutaran film pun harus dilalui dengan secermat dan seseksama mungkin: kamar kecil, tidur, kegiatan pribadi lainnya, dan yang menyenangkan adalah masing-masing diperkenankan membuat film pendek untuk dimasukkan dalam kompilasi (omnibus) Cinema 72 Hours.

KALAULAH disebut hukuman, ini adalah hukuman percobaan, dan kamilah kelinci-kelincinya.  Terbukti sukses, karena karantina 72 jam ini mampu merekatkan kami para kelinci sehobi, yang kini sudah tak sabar untuk dilibatkan kembali dalam program selanjutnya.

Can't wait!

^^



72 Footsteps ialah karya saya yang terdapat dalam omnibus Cinema 72 Hours

25.7.11

[HHP 2011] Bersenang Di Alam

HHP2011

Give Hope A Hand : Aku dan Alam, Belajar dan Bertualang

sebuah acara rekreasi alam bagi anak-anak rumah singgah Sumbangsih
oleh Helping Hands Project @ Taman Budaya, Sentul, Bogor, 23 Juli 2011
Begitu memasuki bis jemputan, anak-anak ini tak bisa duduk tenang.
"Asyik!  Kita mau keluar negeri ya, Kak?"
"Kita mau ke Sentul, Adik-adik."
"Sentul itu luar negeri ya, Kak?"
"Sentul itu di Bogor, Adik-adik."
"Pasti rasanya keluar negeri seperti ini ya, Kak!"
Dan mereka pun berdendang riang sepanjang perjalanan.

(seperti dikisahkan oleh seorang relawan pendamping)
Jumlah bocah yang senang berlari-lari di rerumputan di 'luar negeri' > 75 orang
Jumlah kru & relawan yang berlari-lari mengejar para bocah > 65 orang
Jumlah donasi terkumpul > 20 juta rupiah
Seluruh donasi terkumpul disumbangkan kepada
Rumah singgah anak nelayan Sumbangsih
Kamal Muara - Jakarta Utara


Jumlah email/sms/bbm/phonecall & meeting koordinasi ~ tak terhingga
Jumlah keringat dan airmata yang tertumpah ~ tak terhingga
Jumlah terima kasih ~ tak terhingga
khususnya atas doa dan dukungan moral & materiil
dari semua keluarga, kerabat, rekan, sponsor, donatur, pengisi acara
dan tentunya para kru & relawan yang berjibaku demi terselenggaranya acara ini


"We make a living by what we get, but we make a life by what we give."
Winston Churchill






photo credits
© 2011 HHP Documentation Team

22.6.11

Istana Bogor

INI adalah kunjungan perdana saya ke istana kepresidenan RI di Bogor. Adalah terlarang untuk membawa kamera, maka ini menjadi kesempatan saya tuk bereksperimen lewat ponsel. Agar mendapat kesan dramatis, saya pasang efek Holga ala kamera Lomo di ponsel saya. Sila menikmati! ^^


> ruang kerja Bung Karno tampak sangat nyaman, nyeni, dan inspiratif
> saya terpana dengan lukisan Bila Dunia Berakhir karya Basuki Abdullah, it's so thrilling
> akhirnya bertemu si Denok, patung seksi karya seniman Trubus, konon sang model adalah istri salah seorang pegawai istana
> patung-patung karya seniman dunia kini sudah bebas telanjang apa adanya
> ternyata ada pula beberapa bangunan museum di dalam komplek istana
> bisa dadah-dadah sama pengunjung Kebun Raya *berasa royal family*
> masih saja ada pengunjung yang buang sampah sembarangan *keluh*


All pictures in this album is copyrighted © 2011 duaBadai. All rights reserved.

22.2.11

Raising Hope

PADA suatu ketika di rumah sakit, terdapat pasangan suami istri yang sedang membawa anaknya berobat.  Ketika tv di ruang tunggu menyiarkan berita perang, mereka segera mengganti salurannya.

Kemudian bertuturlah mereka pada saya bahwa sang anak tengah mengidap kanker.  Mereka dengan gigih terus memberi semangat hidup pada sang anak. 
Beberapa waktu sebelumnya, si anak pernah melihat berita perang di tv, dimana ditayangkan pula korban anak-anak.  Ia lalu bilang pada orang tuanya: "Buat apa aku disuruh bertahan hidup, aku udah capek, papa mama duitnya habis, sementara di tempat lain anak-anak yang masih sehat dibunuh-bunuhin tanpa alasan!"

*speechless*

Itulah alasan mengapa pasangan suami istri tsb langsung mengganti saluran tv.  Mereka tak mau sang anak kembali hilang semangat & pupus harapan.


[seperti dikisahkan oleh seorang teman pada saya]




CIPUTAT, 20 Februari 2011.  Raising Hope adalah tema acara kumpul keluarga bagi anak-anak penderita kanker yang berada di bawah naungan YKAKI (Yayasan Kasih Anak Kanker Indonesia).

Kegiatan ini sejenak mengalihkan perhatian anak-anak malang ini dari rutinitas pengobatan yang melelahkan dan kadang menyakitkan.  Berkumpul kembali bersama keluarga, mengikuti berbagai permainan seru, mendapati aneka bingkisan, terbukti mampu mengembalikan keceriaan dan senyum sumringah di wajah mereka.  Kemunculan pengisi acara idola mereka diharapkan dapat memberi motivasi untuk tetap bersemangat & bertahan dalam menghadapi cobaan.

Puncak acara adalah pelepasan ratusan balon ke langit.  Sebelumnya masing-masing anak (atau diwakilkan oleh orang tua mereka) menuliskan harapan-harapan mereka di secarik memo, lalu diikatkan pada dua buah balon.  Setelah dikumpulkan lalu dilepaskan beramai-ramai ke udara.

Sekilas saya membaca apa yang tertera di salah satu memo:

..sudah capek, pengen cepet sembuh..

Cuma sekelebat namun menghujam.  Trenyuh.  Dalam hitungan detik memo itu pun sudah membumbung tinggi ke angkasa menyusul balon-balon harapan lainnya.

Balon-balon itu terbang acak memburu langit biru.

Semoga langit menangkapnya dan menyiarkan harapan-harapan mungil itu pada semesta.

Menatap mereka hingga tinggal titik kecil di ketinggian sana sungguh menorehkan haru di hati.  Seakan mengirim doa lewat jalur ekspress kepada Tuhan.  Semoga semua harapan itu mewakili semua harapan anak-anak penderita kanker lainnya di dunia.
Termasuk si anak di ruang tunggu rumah sakit tadi...


 



all pictures in this album are copyrighted
© 2011 duaBadai photography


29.7.10

B i r u | B i r a

Photobucket


BIRA, an amazing trip with good friends
true blue is the sky and deep blue is the sea
infinity in crystal clear water
good food & good dog
one brave hero


[ tutur kisahnya ada disini ]






all pictures in this album are copyrighted
© 2010 duaBadai photography

27.7.10

[HHP 2010] Sebuah Konser Amal


Give Hope A Hand : Kejar Mimpi Sampai Ke Bintang
sebuah konser amal bagi anak-anak penderita kanker
oleh Helping Hands Project @ Goethe Haus, Jakarta, 18 Juli 2010




Jumlah kru > 50 orang
Jumlah artis pengisi acara > 15 orang
Jumlah donasi terkumpul > 64 juta rupiah
Seluruh donasi terkumpul disumbangkan kepada
Rumah Kita YKAKI (Yayasan Kasih Anak Kanker Indonesia)




Jumlah email/sms/bbm/phonecall & meeting koordinasi ~ tak terhingga
Jumlah keringat dan airmata yang tertumpah ~ tak terhingga
Jumlah terima kasih ~ tak terhingga
khususnya atas doa dan dukungan moral & materiil
dari semua keluarga, kerabat, rekan, sponsor, donatur, pengisi acara
dan tentunya para kru yang rela berjibaku demi terselenggaranya acara ini
^^




Sampai jumpa di acara Helping Hands Project berikutnya!

"We make a living by what we get, but we make a life by what we give."
Winston Churchill






photo credits
© 2010 HHP Documentation Team

23.5.10

Kidung Tidung


TIDUNG dimata kami ialah biru yang bersenandung
biru yang bening, bening yang mengalun
melantun kidung yang tak berujung

[ kisahnya bertutur disini ]





all pictures in this album are copyrighted
© 2010 duaBadai photography

19.5.10

Semburat Garut

Garut

GARUT, destination unknown.
Desa hingga kota.
Sawah hingga kawah.

Rumah tua hingga gudang tua.


[ tutur kisahnya ada disini ]





all pictures in this album are copyrighted
© 2010 duaBadai photography

27.4.10

Anak-Anak Bangsa

Helping Hands Project @ SDN Sukamanah, Cigombong, Bogor | 24 April 2010


TERLETAK di daerah sejuk di kaki gunung Salak, SDN Sukamanah hari itu tampak lebih ramai dari biasanya.  Adalah Helping Hands Project yang tengah mengadakan aksi sosial di sekolah tsb.

Acara dibuka dengan pembacaan puisi oleh dik Puput.  Isinya tentang perasaan seorang anak yang sedih akan kondisi sekolahnya yang bobrok, namun ia tetap punya semangat dan cita-cita tinggi.  Kau bisa bilang puisi ini klise, tapi kau harus lihat sendiri cara dik Puput membawakannya dengan demikian polos dan bikin haru biru.  Andai saya tak sedang berkutat dengan handycam yang bermasalah, tampaknya saya bisa menitikkan airmata di awal acara.

Selanjutnya acara dipandu oleh kak Sogi & kak Zessy.  Hiburan dan permainan digelar, senda gurau ditebar, semua larut dalam ceria.  Ada tari kupu-kupu, tari 'Amrin Membolos' (nah, kalau ini saya tak bisa menangkap korelasi antara judul tari dengan makna gerakannya; tapi tak apa, namanya juga anak-anak ;)), tari rampak Sunda, juga nyanyi & joget bersama.



Dihelat pula permainan tradisional seperti 'perepet jengkol', joget di atas lipatan koran, sarung berantai, hingga lari estafet sambil menggendong teman.  Acara juga diselingi oleh penampilan kak Ramaditya yang berkostum Star Wars lengkap dengan pedang lighsaber-nya.  Ada pula pendongeng ulung, kak Ariyo.  Keahliannya berceritera bukan hanya memikat adik-adik, tapi juga kakak-kakak panitia dan hadirin sekalian :)

Acara berakhir dengan pemberian bantuan dan sumbangan secara simbolis kepada pihak sekolah.  Suasana haru kembali meliputi suasana ketika puisi penutup dibacakan oleh dik Reni & dik Jafar.  Isinya ialah ucapan terima kasih dan doa.  Begitu sederhana, namun terasa tulus.  Menyentuh.  Saya yakin banyak yang berkaca-kaca mendengarnya, bahkan ada yang tak sungkan meneteskan airmata.

Alhamdulillah, acara di SDN Sukamanah ini berjalan lancar tanpa hambatan.  Secara pribadi, acara kali ini lebih menyentuh sisi emosional saya, mungkin karena saya sudah terlibat sejak awal, mulai dari survei lokasi, persiapan, pelaksanaan, bahkan hingga jauh acara usai.  Muncul rasa empati yang dalam bagi anak-anak ini, ada harapan tulus agar kelak mereka tumbuh menjadi generasi bangsa yang jauh lebih baik.



Kami meninggalkan lokasi dengan rasa haru campur senang.  Acara telah berlangsung dengan baik dan lancar, dan yang jelas makin membuka kepedulian kami pada sesama.  Jikalau ucapan terima kasih harus diucapkan satu persatu tentulah ada banyak nama yang harus disebutkan.  Yang jelas penghargaan sebesar-besarnya kami berikan atas dukungan dan doa dari rekan-rekan/donatur yang baik hati, panitia pelaksana yang kompak-rusuh-seru, pihak sekolah yang bersahaja, hingga orangtua dan kerabat yang budiman.

Sampai jumpa di acara Helping Hands berikutnya!

"We make a living by what we get, but we make a life by what we give."
Winston Churchill




photo credits:

© 2010 HHP Documentation Team

11.2.10

Cita-Citaku | Dokter

Awalnya tak terbesit dalam benak bahwa kedatangan kami akan disambut penuh sukacita.  Baru saja melintas di pintu depan, bocah-bocah ini sudah berlarian menghampiri kami dan memberi salam dengan antusias.  Tanpa sungkan mereka lincah bergaya di depan kamera.  Padahal ini adalah kali pertama saya bertemu dengan mereka, para penghuni cilik Rumah Kita.

Terletak di kawasan Percetakan Negara, Jakarta Pusat, Rumah Kita tak ubahnya seperti rumah hunian lainnya, kecuali bahwa ia adalah tempat bernaung para kanak penderita kanker dari keluarga tak mampu dan sedang dalam masa pengobatan di rumah sakit rujukan di Jakarta.

Bernaung di bawah YKAKI (Yayasan Kasih Anak Kanker Indonesia), Rumah Kita berusaha mewujudkan sebuah tempat yang nyaman bagi anak-anak ini lengkap dengan fasilitas bermain dan belajar.  Selain itu, keberadaan teman-teman sepermainan di rumah ini terbukti menjadikan anak-anak ini jauh lebih riang dalam menjalani hari-hari pengobatan yang melelahkan.



Lihatlah Tiara.  Sebagai si bungsu ia tampak tak kenal takut pada siapapun atau apapun.   Semua sangat menyayanginya, termasuk Timothy sang 'kepala suku', atau Ando sang 'ajudan' yang hiperaktif.  Jikalau mereka semua sedang berkumpul, terbayang sudah keramaian yang terjadi. 

Seperti halnya sekumpulan bocah yang selalu menjawab dengan antusias, demikian pula mereka ketika ditanya tentang cita-cita.  Semua serentak menjawab "Dokter!" tanpa pikir panjang lagi.  Salah seorang anak lalu memeragakan adegan seorang dokter tengah menyiapkan jarum suntik lalu menyuntik pasiennya.

Tampaknya kedekatan emosional mereka dengan dokter sudah tertanam sejak dini.  Trenyuh memang.


Kunjungan kali ini memang singkat saja, namun ada doa dan harapan yang kami sematkan disana.  Semoga kehadiran Rumah Kita dapat sedikit meringankan penderitaan anak-anak tak berdosa ini.  Lekas sembuh ya adik-adik, supaya kalian bisa lekas kembali ke rumah masing-masing.  Amien.



Adalah Helping Hands Project, sebuah wadah komunitas nirlaba yang tahun ini kembali menggalang aksi sosial, dimana salah satu misinya ialah memberi bantuan dana bagi keberlangsungan hidup Rumah Kita.  Tentu saja niat ini takkan terlaksana tanpa sumbangsih dari rekan-rekan sekalian.



Silakan klik disini jika anda hendak berpartisipasi dan mendapatkan informasi lebih lanjut.

Uluran tangan dari kita semua tentunya dapat memberi secercah harapan bagi mereka semua.  Semoga.


9.2.10

Cita-Citaku | Guru

S

SDN Sukamanah terletak di desa Sukamanah, Cigombong, Bogor.  Kami harus masuk melalui gang kecil sejauh kurang lebih 200m dari jalan aspal terdekat melewati rumpun bambu dan tepian sawah sebelum tiba di lokasi.

Secara umum kondisi bangunan sudah memprihatinkan.  Sejak berdiri tahun 1981, sekolah ini baru satu kali saja mendapat renovasi dari pemerintah.  Bahkan kini jika hujan deras datang, pihak sekolah harus membubarkan kelas, karena kuatir kondisi atap dan langit-langit yang rapuh malah membahayakan para murid.

G

Guru-guru yang kami temui tampak ramah, bahkan berkesan pasrah.  Sudah banyak janji bantuan mengalir namun belum ada yang terlaksana.  Seorang guru honorer yang sudah belasan tahun mengajar di sana pun sudah pasrah akan statusnya.

Namun anak-anak yang bersekolah di sana tak tampak hilang keceriaan.  Mereka cuma tahu bahwa dengan bersekolah disini berarti mereka bisa belajar dengan bimbingan guru-guru yang baik hati, dan bermain dengan teman-teman yang mengasyikkan.  Kondisi sekolah tampaknya hanya menjadi aspek kesekian bagi mereka.

Lihatlah Reni dkk.  Walaupun sebagian besar masih tampak malu-malu, namun kami dapat merasakan antusiasme mereka.  Mungkin di mata mereka sosok gurulah yang paling dekat di hati, sehingga ketika ditanya apa cita-cita mereka, semua kompak menjawab: "Guru!"

Atau jawaban polos Siti ketika ditanya tentang kesiapan ujian:
"Kamu sudah siap ujian?"
"Siap."
"Siap apanya?"
"Siap ngisi."

Ah, keluguan anak-anak ini memang menggemaskan.  Apapun harapan & impian mereka semoga tak terhalang oleh kondisi sekolah saat ini ataupun kurangnya sarana pendukung lainnya. Adakah di antara kita tega melihat cita-cita mereka pupus?


Adalah Helping Hands Project, sebuah wadah komunitas nirlaba yang tahun ini kembali menggalang aksi sosial, dimana salah satu misinya ialah memberi bantuan dana & prasarana bagi anak-anak SDN Sukamanah.  Tentu saja niat ini takkan terlaksana tanpa sumbangsih dari rekan-rekan sekalian. Silakan klik disini jika anda hendak berpartisipasi dan mendapatkan informasi lebih lanjut.

Uluran tangan dari kita semua tentunya dapat memberi secercah harapan bagi mereka semua.  Semoga.



15.12.09

Djokdja | Hari Doea



ITINERARY alias rencana perjalanan memang disusun untuk diubah ;p
Seperti hari ini dimana agenda berganti formasi.  Rencana awal adalah menyusuri koridor pantai selatan sepanjang Ngobaran-Ngerehan-Baron-Kukup-Krakal-Wediombo.  Namun karena satu dan lain hal tujuan pun berpindah haluan, kronologisnya kira-kira seperti ini:


1]  Karunia

atau biasa disebut juga Kurnia, adalah nama hotel pindahan kami yang terletak di jalan Sosrowijayan.  Alasan kepindahan dari Prawirotaman ke kawasan ini cuma satu: lebih dekat dengan peradaban (alias keramaian Malioboro).


2]  Tamansari

ialah lokasi bersejarah lokasi pemotretan pertama hari ini.  Situs ini dahulu adalah tempat tetirah/pemandian kaum bangsawan.  Banyak spot cantik disini, lokasinya pun unik karena membaur dengan perumahan penduduk.  Jangan bayangkan perkampungan kumuh ibukota, karena perkampungan disini sungguhlah apik, resik, dan sangat kental akan budaya Jawa.


3]  Gudeg Yu Djum

ialah tempat kami makan siang di jalan Wijilan, sebuah kawasan yang lebih dikenal sebagai kampung gudeg.  Kami datang jelang tengah hari, karenanya banyak menu yang sudah habis (idealnya memang datang pagi-pagi biar dapat suguhan lengkap).


4]  Mirota & Vredeburg

ialah nama dua spot menarik di Malioboro.  Pertama adalah toko oleh-oleh, kedua adalah benteng perdamaian peninggalan jaman Belanda.  Kami hanya singgah sejenak disini sambil menanti kedatangan teman-teman dari Magelang (Moy, Nung, Mima).


5]  Parang Kusumo

ialah pantai sunyi dengan gurun pasir berundak-undak.  Letaknya tak jauh dari pantai Parang Tritis.  Sayang cuaca yang kurang bersahabat saat itu membuat kami tak bisa memburu gambar sepuasnya, padahal gurun pasirnya demikian menggoda.


6]  Ratu Boko

ialah puing-puing istana megah peninggalan abad ke-8.  Situs ini pun terkenal akan pemandangan sunset-nya yang spektakuler.  Kami termasuk pengunjung terakhir disana, dan karenanya tak sungkan berfoto spektakuler ala kami sendiri *sambil loncat-loncat*


7]  Prambanan

ialah lokasi yang dipilih tuk gala dinner ala buffet.  Terbayang suasana makan malam nan cantik berlatar belakang candi Prambanan berhias tata cahaya megah.  Sayangnya, meja terbaik di sana sudah fully-booked, sedangkan duduk di lokasi outdoor tak memungkinkan karena gerimis menderas.  Dengan berat hati kami pun berpindah haluan.


8]  Phuket

ialah nama restoran Thai tempat kami berjaya menyantap makan malam hebat dengan harga bersahabat.  Lokasi yang kami sambangi malam itu terletak di jalan HOS Cokroaminoto.  Tom Yam Seafood jadi menu favorit.  Inilah kali pertama di Jogja saya mampu menyantap habis makanan di piring tanpa rasa mual lagi.


9]  Nav

ialah tempat cuap-cuap berkaraoke.  Awalnya kami iseng membuntuti mobil teman kami karena hendak mencari tahu dimana tempat tinggal Mima, lalu niat mau "dadah-dadah" begitu ia turun mobil.  Tapi beruntung Mima masih dilindungi olehNya, karena kami keburu menemukan tempat karaoke satu ini.Beragam lagu dinyanyikan, dan saya terkekeh-kekeh sendiri karena menemukan banyak judul lagu ajaib di database: Makan Darah (Rita Sugiarto), Siksa Kubur (Rimba Mustika), hingga Tragedi Tali Kutang (Kabul & Dhiah S.)


10]  Prada

ialah tujuan terakhir menghabiskan malam metropolis.  Kami tak berbelanja tentu saja, karena Prada ini bukan nama butik mahal, melainkan nama kedai lesehan sederhana di dekat jalan masuk Sosrowijayan, Malioboro.  Saya menyebutnya kedai bersahaja, dan karenanya memesan mie rebus bersahaja dan teh panas bersahaja.  Duhai, nikmat bersahaja pun!




Itinerary memang bisa diubah, namun sepanjang dijalani dengan sukacita maka tiada yang terasa sia-sia.  Camkan itu!

:)

11.12.09

Djokdja | Hari Satoe


DINI hari sekali dengan muka-muka rata kami sudah bergerak menuju bandara
t u k
mengambil penerbangan pertama ke Yogyakarta
d e m i
menunaikan hajat liburan akhir pekan.


Syahdan, setibanya di kota tujuan, kami segera meluncur menuju beberapa lokasi berikut:

1] Cristalit

ialah nama hotel tempat kami menginap di kawasan Prawirotaman. Kondisinya standar aja, dan lokasinya yang agak jauh dari Malioboro membuat kami memutuskan tuk pindah esok harinya ke kawasan yang lebih dekat yaitu di kawasan Sosrowijayan.



2] Ullen Sentalu


alias museum sejarah budaya Jawa di kawasan Kaliurang, sebelah utara Jogja. Museum ini indah dan layak dikunjungi, arsitekturnya megah dan menyatu dengan alam, atmosfernya sejuk, koleksinya unik dan berharga, termasuk di antaranya informasi tentang silsilah kesultanan Surakarta & Yogyakarta.

Sayang kami tak diizinkan mengambil gambar selama berada di dalam museum. Namun niscaya, sekeluarnya dari Ullen Sentalu, kau akan merasakan keterpesonaan sendiri akan agungnya budaya Jawa, dan tak sabar tuk membaginya dengan rekan kerabat.



3] Borobudur


alias candi Buddha terbesar di dunia. Tak perlu penjelasan apapun lagi tentang candi ini. Kecuali satu, ini adalah kunjungan perdana saya! Hip hip hore!
*cium tanah*



4] Jejamuran

ialah restoran yang menyajikan menu serba jamur. Rasanya ENAK-ENAK-ENAK! Rendang jamur, ENAK! Sate jamur, ENAK! Sop jamur, ENAK! Sayangnya saya kena jackpot di kamar mandi akibat telat makan (bayangkan, kami baru makan siang menjelang maghrib, wkkkk!). Akibatnya makanan tadi keluar semua tak ada yg masuk lambung secuil pun T_T



5] McDonald's

ialah restoran cepat saji yang memenuhi hasrat kami akan dahaga MSG. Sebenarnya lawatan ke sini hanya untuk membeli bubur ayam untuk saya makan (secara tak ada sesuap pun makanan yang masuk ke lambung sejak siang). Usai ngebubur, teman-teman yang lain hendak makan di KFC. Tapi apa daya restorannya keburu tutup, sehingga mereka pun harus cukup puas menyate kambing di dekat hotel.



Kami tutup hari itu dengan kelelahan tiada tara, namun hati membuncah sukaria.  Tak sabar nantikan esok.  See you soon!


30.11.09

Aku & Cow

ALKISAH berkunjunglah kami ke sebuah peternakan sapi perah di kaki gunung. Terletaklah ia di sebuah lembah di ceruk bukit, dimana rerumputan masih kuasa tumbuh tinggi dan air sungai masih menggeleguk deras. Ialah tempat dimana saya akhirnya putus kontak dengan peradaban (indikasinya ialah sinyal ponsel yang hilang total ;p).

Namun saya senang-senang saja berada di sana, karena kebetulan saya adalah penyuka sapi (baik dalam bentuk utuh, replika, ataupun hidangan!).
Senangnya bagaikan haus bertemu air, bagai pegal bertemu pijat, bagai alay bertemu kangen band, bagai monyet bertemu pisang, bisa bikin loncat-loncat.

Lesson of life:

..bahwa pedet itu nama lain dari anak sapi

..bahwa sapi perah betina itu bertanduk

..bahwa sapi perah betina itu pipis berdiri (eh semua hewan juga kali ya, tapi yang jelas baru kali pertama itulah kami melihat cewek pipis berdiri tepat di hadapan kami!)


Trims buat Nto, Dhit, Moel yang udah nemenin maen ke kandang sapi! Next time ikutan merah susu ahhhh ;p

11.11.09

A Day With Reza & Schatzi

Hari itu cerah, saya gerah, dan kedua kawan saya muncul memerah.  Semangat kami membuncah.  Misi kali ini ialah menjelajah pelosok kaki gunung Salak, demi keperluan survei sebuah proyek sosial.  Senangnya dapat keluar dari rutinitas harian dan kembali menikmati ijo royo-royo alam bebas.

Bagai James Nachtwey tengah meliput daerah konflik, saya pun menyiagakan kamera dalam perjalanan, siap memotret apapun yang tampak layak diabadikan.  Selain pemandangan yang indah (ada tebing, sawah, sungai, lembah, gunung, dll), juga saya jumpai banyak penduduk setempat yang ramah, murah senyum, dan penuh rasa ingin tahu meski sedikit pemalu.

















Di ujung desa terakhir, barulah kami menjumpai
tak seorangpun melainkan jalan tanah yang penuh ditumbuhi ilalang.  Tapi jangan kaget jika di ujung peradaban ini masih kau temui banyak pintu gerbang besi dimana villa-villa megah tersembunyi.

Jika tak ingat tugas, dan tak ingat waktu, ingin rasanya kami menyusuri jalan tanah ini hingga ujung akhir.  Suasana alam liar yang indah ini rasanya sayang tuk dilewatkan.  Ah, tugas yang cukup melelahkan namun menyenangkan.  Terlebih bagi saya yang dapat leluasa menghirup udara segar pegunungan.

Selain itu saya juga berkesempatan mengenal lebih dekat Reza dan Schatzi, yang menjadi porter kami saat itu.
Reza, yang memanggul beban 70 kg, tampak masih canggung dan malu-malu.  Beda halnya dengan Schatzi, yang gagah perkasa karena meskipun bebannya jauh lebih berat, namun tampak sigap dan mumpuni.
Well, ada kalanya pada saat tanjakan curam, Schatzi yang tampak kepayahan.  Namun saya kerap menyemangatinya sambil berseru: "Satu enam lima!  Satu enam lima!  Satu enam lima!"  Hasilnya bisa ditebak, dengan atau tanpa teriakan saya, Schatzi tetap harus didorong naik.  Wkkkk!



















Hari sudah merambat petang ketika kami kembali turun gunung.  Hujan mulai turun
saat kami kembali menjumpai kemacetan jalan raya.  Namun penat dan lelah sudah tak kuasa mengalahkan hangat hati kami karena telah sejenak bercumbu dengan alam.  Walau sekejap sahaja.





note #1
Jikalau bermotor jarak jauh (walaupun cuma dibonceng) mestilah sedia jaket & helm, otherwise kaos putih cemerlangmu kan berwarna putih tua, serta muka bakal coreng moreng dan mata kelilipan melulu kena debu & asap knalpot (terutama jika kau melintasi jalan raya Bogor-Sukabumi yang sepadat jalur Pantura namun sesempit pematang sawah).


note #2
Mungkin ada yang bertanya-tanya kenapa saya berseru "Satu enam lima!" berkali-kali pada saat Schatzi tak kuat menanjak.  Pertama, karena itu adalah total beban yang harus dipikul oleh Schatzi (yes baby, it's 165 kg! can you imagine it?).  Kedua, karena saya tak mau memikirkan seruan lain yang lebih baik.  Nyiahaha!


note #3
Teknik memerah susu sapi: pakailah pelicin agar puting sapi tak lecet, lalu tariklah puting tsb hingga susunya keluar habis hanya dalam satu sentakan.  Harus habis, kalau tidak si sapi akan kesakitan, dan menamparmu dengan buntutnya.  Mungkin sakitnya seperti pipis yang tak tuntas.
*obrolan OOT pada saat survei, namun bagi saya cukup penting tuk dibagi di sini *


13.10.09

Balinesia | Going South

Menjamah selatan Bali tak ubahnya menjumpa kawan lama.  You know what you get, and sometimes you get surprises.
Seperti halnya ketika mendengar nama Nusa Dua.  Ah, tempat yang populer, dan lokasinya sudah dikenal betul.  Tapi bagaimana dengan pantai Geger?  Hmm, mari cari tahu.

Pantai Geger terletak menyempil di kawasan Nusa Dua.  Berkendaralah sepanjang jalur
menuju hotel Nikko, sampai kau temui sebuah pertigaan dengan plang "Geger Beach" menunjuk ke sisi kiri.  Mudah sahaja, namun tak banyak wisatawan lokal yang mengetahui tempat ini. 


Retribusi masuk cuma dua ribu rupiah per mobil, dan yang kau dapatkan adalah pantai pasir putih dan laut biru tosca.  Kursi-kursi malas berpayung putih tampak berderet rapi sepanjang pantai.  Semua pengunjungnya 'bule habesss', kecuali kami yang berkulit coklat eksotis ;p
Ah, jika saja tak ada bendera merah putih berkibar di salah satu tiang, mungkin rasanya seperti sedang leyeh-leyeh di pantai Bora Bora!

Kunjungan berikutnya adalah pantai Padang Padang, namun karena satu dan lain hal, kami ubah haluan ke pantai Dreamland.

Siang itu matahari sedang garang.  Para keturunan kaukasia tampak menguasai pasir pantai.  Kebanyakan mereka malah terlena dengan hanya sehelai dua helai penutup tubuh sahaja.  Lalu dimanakah para turis lokal?


Lihat saja di bawah keteduhan karang, disanalah mereka bersembunyi dari sengatan siang (ya, termasuk kami, tentu saja :)). 


Panas terik membuat kami tak berlama-lama di Dreamland.  Atas info seorang teman, kami pun beranjak menuju Puri Bali Nyang Nyang, sebuah kawasan tetirah yang terletak di tepian tebing curam Uluwatu.  Konon kita bisa berenang-renang cantik di kolam renang infiniti-nya sambil menikmati sunset dari atas tebing.

Namun rencana kami harus ditunda.  Kehadiran turis oriental yang jumlahnya puluhan orang saat itu terpaksa menyurutkan niat kami.  Lagipula kolam renangnya tampak agak kotor.

Meski begitu kami tak kapok datang kesini, karena semestinya Nyang Nyang punya keindahan tersendiri, apalagi jika rumput sedang hijau dan langit sedang biru.  Pasti cantik nian!



12.10.09

Balinesia | Going East

Pesisir timur Bali adalah pantai dengan pasir legam, koral indah, dan berlatar belakang  gunung Agung nan sungguh agung.  Cobalah duduk diam di pesisirnya, kau cuma akan mendengar desau angin, hempas ombak, dan kesunyian.


Tulamben dan Amed adalah dua tujuan utama.  Tempat ini dapat ditempuh selama 2 jam perjalanan darat dari Ubud atau Denpasar.  Kedatangan kami kali ini disambut oleh kering kerontang perbukitan dan pepohonan, dimana awan hujan cuma sekedar lewat dan lewat tanpa tumpah.  Nuansa kuning kecoklatan berpadu koral hitam.  Gersang namun indah.

Tanjung Jemeluk di Amed adalah salah satu spot snorkelling favorit.  Tak perlu bayar tanda masuk atau sewa perahu, lempar saja bajumu ke pasir, masuklah ke dalam air.  Voila!  Terumbu karang aneka bentuk dan ikan laut aneka warna kan memanjakan matamu.  Dan saya berani bilang inilah salah satu spot snorkelling terindah yang pernah saya datangi.

Sepanjang pesisir Amed terdapat banyak resort yang juga menyediakan fasilitas snorkelling dan diving.  Tak banyak turis disini, dan wisatawan lokal yang berkunjung saat itu ya cuma kami sendiri.


Tulamben sendiri khususnya lebih dikenal sebagai surga diving.  Di antaranya bahkan terdapat situs kapal karam dari Perang Dunia II.  Selain itu topografi pesisir Tulamben yang berbukit dan berkarang pun menjadi nilai tambah tersendiri.

Perjalanan menuju/dari pesisir timur Bali itu sendiri cukup memesona.  Jangan lupakan perbukitan karang di Karangasem,  pesisir indah di Candidasa, atau singgah sejenak di laguna biru Padangbai.
Ada pula istana air peninggalan raja-raja, atau lebih dikenal sebagai Tirta Gangga.  Terletak di desa Abang, Karangasem, lokasinya cukup sejuk dan permai, dan situs ini sungguh indah menawan.  Cocok tuk foto romantis ;p


Pesisir timur Bali tlah kami tahbiskan sebagai tujuan liburan favorit.  Jika kau cari  keindahan dan kedamaian, maka pergilah ke timur.  Kami jamin.


24.8.09

Jelajah Krakatau

Canti, Lampung selatan, sabtu pagi yang mendung.  Setelah perjalanan panjang menyusuri rute Kampung Rambutan-Merak-Bakauheni, akhirnya kami tiba jua di desa bernama Canti ini.  Pelabuhan kecil itu sunyi.  Titik gerimis turun dari langit kelabu.  Bahkan kamera kami pun cuma menangkap gradasi hitam putih saat itu.

Namun cuaca suram tsb tak menghalangi kami tuk mengangkat sauh dan melarung lautan.  Krakatau sudah memanggil kami.  Memang perahu kami sempat terombang-ambing oleh gelombang, namun saya yakin selama nahkoda dan awak kapal bersikap santai, artinya tak ada yang perlu dikuatirkan.  Kiat saya tuk menolak mual adalah dengan memandang lepas ke kejauhan.

Larik-larik cahaya mentari mulai muncul ketika perahu memasuki perairan Sebuku.  Tak pernah kami begitu mensyukuri nikmat hangatnya sinar sang surya seperti saat itu.  Gelombang mulai reda, dan mendung pelahan berlalu.  Alhamdulillah!  Hadirnya mentari menampilkan kembali warna-warni biru kehijauan lautan.

Kami singgah sejenak di pulau Sebuku Kecil.  Tanpa ragu semua segera terjun ke air, dan berenang menepi ke pantai berpasir putih nan indah.  Hilang sudah semua penat dan mual.

Puas menikmati Sebuku Kecil, pelayaran pun berlanjut menuju pulau Sebesi.  Disinilah penginapan kami berada.  Ialah dua buah rumah yang masing-masing berupa ruangan lapang dan diisi oleh jejeran kasur yang diletakkan berhadapan, tak ubahnya barak asrama.  Tapi kami menyukainya.

Usai rehat sejenak, penjelajahan kembali dimulai.  Sebagian kami mulai menyusuri jalan desa yang berdebu, memasuki perkampungan di pulau Sebesi, menengok pabrik minyak kelapa, hingga muncul kembali di tepi pantai.

Sore hari kami berkunjung ke pulau terdekat, yaitu Umang-Umang.  Keindahan dan kesunyiannya laksana pulau pribadi.  Pasir putih, pasir kerang, lautan jernih, terumbu karang, hingga bebatuan yang tegak menjulang sungguh memanjakan hasrat 'back to nature' kami, tak lupa naluri 'narsisme' pun tersalurkan.
Total sudah ada 206 foto di kamera saya hari itu, belum ditambah foto dari 15 kamera lainnya :)

Malamnya kami sudah masuk kamar pukul 20:30.  Ya, kami, anak-anak hedonis metropolis, sudah rebah di kasur masing-masing tepat pukul setengah sembilan di malam minggu di pulau eksotis ini.
Jangan bilang t-e-r-l-a-l-u.  Kondisi tubuh yang kecapekan akibat perjalanan panjang malam sebelumnya ditambah aktivitas seharian tadi, membuat kami satu persatu terlelap tanpa banyak kata lagi.

Esoknya, pagi-pagi sekali kami sudah kembali berlayar, tujuan kali ini adalah Krakatau.  Sungguh menakjubkan betapa saya akhirnya jadi juga mengunjungi situs vulkanis legendaris tsb.

Jadi pada jaman prasejarah tersebutlah sebuah gunung yang dinamai Krakatau
Besar di pulau Rakata, yang pernah meletus dahsyat dan meruntuhkan 2/3 dari gunung tsb.  Aktivitas vulkanis kemudian memunculkan dua buah pulau, Danan dan Perbuatan.

Pada 27 Agustus 1883, terjadi lagi ledakan dahsyat Krakatau.  Letusan ini melegenda karena bunyi ledakannya terdengar hingga Australia dan debunya menjelajah dunia.  Ia pun masuk dalam kategori super-volcano skala 7.
(Pssst, mau tahu skala 8? Rekor ledakan super-volcano terdahsyat selama 25 juta tahun terakhir tetap dipegang oleh Indonesia, tepatnya letusan gunung Toba purba, yang kawahnya masih tersisa berupa danau Toba yang sekarang.  Efeknya saat itu mempercepat jaman es dan efektif mengurangi populasi manusia prasejarah hingga tinggal 10 ribu jiwa saja).

Anyway, letusan terakhir Krakatau pada 1883 ini menyisakan sedikit saja pulau Rakata, sedangkan pulau Danan dan Perbuatan musnah.  Periode 1920an, aktivitas vulkanis memunculkan sebuah pulau baru, Anak Krakatau.

Dan kini, perahu kami melaju mendekatinya.  Puncak Anak Krakatau tampak tenang dan syahdu.  Tapi siapa sangka begitu satu persatu kami mendarat di pesisirnya, ia mulai meletup-letup lagi.  Waaaaah, semua terpesona melihatnya.

Sayang aktivitas letupan yang terlalu aktif tak memungkinkan kami tuk mendaki hingga ke puncaknya.  Kami harus cukup puas mendaki hingga dindingnya saja.  Tiap kali ada letupan semua orang bersorak sorai, dan sibuk berfoto-foto.  Kapan lagi ada letupan gunung berapi dan kami malah bersukaria di bawahnya.  Sungguh pengalaman unik yang tiada tara.
    
Dari Anak Krakatau ini kami pun sempat memandang pulau Rakata dimana gunung Krakatau yang asli berada.  Ia menjulang tinggi angkuh, setengah bagiannya hanya berupa jurang terjal yang menjorok ke laut.  Diamnya sungguh bagai misteri di mata saya.

Kegiatan kami berikutnya adalah snorkelling di legun Cabe (pardon, is it Chilli lagoon in English?).  Lokasi tepat berada di pesisir pulau Rakata.  Pemandangannya sungguh indah, baik di dalam ataupun di permukaan laut.

Puas menikmati legun Cabe, kami pun berpindah ke pulau Panjang.  Ragam aktivitas dilakukan di sini.  Ada yang mendaki tebing terjal menuju goa Jepang, ada yang snorkelling, ada yang foto-foto, ada yang menyusuri pantai sambil curhat, ada pula yang berenang-renang sambil ngomongin yang lagi curhat sepanjang pantai, hehehe.

Oya, saya pun sempat mengikuti survival tips di pulau, yaitu mengais-ngais pasir mencari kerang/remis untuk dimakan.  Awalnya sulit, tapi lama-kelamaan kau akan terbiasa, jari-jarimu yang akan mencari sendiri dimana kerang/remis berada.  Lumayan, hampir satu tupperware penuh kami dapatkan dari hasil mengais-ngais pasir tadi. 

Jelang sore kami pun tiba kembali di pulau Sebesi.  Sebagian melanjutkan bermain air di pantainya, bahkan ber-snorkelling di sisi dermaga.  Sayang waktu tak mengijinkan kami tuk kembali menyeberang ke pulau Umang-Umang.  Gelap tlah datang, tiba saatnya tuk kembali ke penginapan.

Total foto yang saya ambil hari ini berjumlah 226 saja, belum ditambah foto dari 15 kamera lainnya :)

Esoknya, hari terakhir liburan kami, di pagi 17 Agustus 2009.  Kami serentak mengadakan upacara bendera di tepi pantai.  Awalnya gerimis cukup lebat, cuaca kembali abu-abu, namun tak menyurutkan semangat kami tuk memperingati hari kemerdekaan RI.  Upacara bendera berjalan khidmat, dan menghibur.  Dari kami, untuk kami, demi negara tercinta.

Gugusan Krakatau kami jelajahi sudah.  Pesonanya takkan lekang, dan kenangannya takkan hilang.  Indonesia, I love you full!





credits
Terima kasih tak terhingga tuk semua pihak yang telah mendukung terselenggaranya liburan ini, langsung ataupun tak langsung...

Oya, foto yang saya ambil di hari terakhir cuma 232 saja, belum ditambah foto dari 15 kamera lainnya :) 

19.8.09

Merah Putih | Sebesi

17 Agustus 2009 ini kami lewatkan di pulau Sebesi, Lampung.  Pagi itu hujan gerimis, namun tak menyurutkan tekad bulat kami tuk melaksanakan upacara bendera memperingati hari kemerdekaan RI di sana.

Semua peserta trip Krakatau kali ini turun menjadi pelaksana sekaligus peserta.  Gladi resik dilaksanakan malam sebelumnya.  Riuh rendah kami menentukan urutan acara bendera yang sesuai tata laksana.  Sinyal selular yang minim pun tak membuat kami jera tuk mencari info yang tepat guna dari dunia maya.  Semua berhasrat sama besar tuk menyukseskan upacara bendera ini.

Akhirnya, ketika pagi itu bendera merah putih berukuran 4x2 m berkibar dilatarbelakangi gunung Sebesi dan diiringi lagu kebangsaan Indonesia Raya, tak berlebihan jika kami semua larut dalam semangat kebangsaan yang tinggi.  Pengalaman menjelajah Krakatau dan sekitarnya sungguh membuat cinta kami bertambah pada Indonesia.

Merdeka bagi kami adalah kebebasan tuk menyintai Indonesia Raya sepenuh hati.
Merdeka!



5.8.09

C h e r i b o n

Dahulu (o well, setidaknya sampai minggu lalu) jika saya ditanya apa yang terlintas dalam benak tentang Cirebon, maka jawabannya pasti seperti ini: panas/kota udang/Dewi Yull ;p

Akhir pekan kemarin saya menyempatkan diri berkunjung ke kota yang dahulu dalam bahasa Inggris bernama Cheribon itu, dan kesan yang saya dapatkan sungguh di luar pandangan sempit saya tadi.


Cirebon sungguhlah dapat memesona saya dan teman-teman.  Campuran budaya Sunda, Jawa, Melayu, Cina, India, Arab, hingga Eropa membaur cantik di sini, baik dalam hal sejarah, arsitektur, fashion, hingga ragam kulinernya.

Jangan tanya bahasanya.  Jangan.  Karena saya memang tak mengerti.  Walau Cirebon masih termasuk dalam propinsi Jawa Barat, namun bahasanya bisa dibilang campuran Sunda-Jawa. 
Mendengar orang Cirebon berbicara dengan sesamanya sungguh membuat kami bagai orang British ningrat yang baru kali pertama mendengarkan orang berlogat Singlish.
No, no, ini bukan pandangan rendah.  Ini cuma ungkapan betapa Cirebon kaya akan budaya
hingga bahasanya pun berbeda sendiri.

Cirebon memang panas, baik dalam arti sebenarnya ataupun sekedar kiasan.  Namun keindahan pesonanya memang cantik tah!
Beberapa situs menarik yang kami kunjungi selama disana antara lain:

[1] stasiun kereta api Cirebon
Peninggalan bangunan jaman Belanda yang masih berfungsi dan terawat baik.


[2] situs Sunyaragi
Alias water palace, tempat dimana dahulu keluarga kesultanan menyepi/beristirahat.  Sangat mengagumkan betapa mereka dulu sudah menguasai teknik membuat air terjun dan sirkulasi pendingin udara dengan air.  Di sini terdapat pula makam Cina kuno yang konon adalah peristirahatan terakhir laksamana Cheng Ho yang legendaris itu.  Oya terdapat pula dua buah pintu gaib yang dahulu kabarnya menghubungkan istana air ini dengan negeri Cina dan tanah suci Mekkah. 


[3] obyek wisata Cibulan
Terdiri atas kolam renang berair jernih dan dingin, yang didiami oleh ratusan ikan Dewa, yang besarnya nyaris sebesar bayi manusia.  Penduduk sekitar banyak yang berwisata dan mandi-mandi di kolam ini, meski kami tak tertarik untuk mencobanya.  Di samping kolam terdapat pula telaga alam dan tujuh mata air alami yang kerap dijadikan tempat sembahyang.


[4] keraton Kanoman
Kebanyakan menampilkan peninggalan Sunan Gunung Jati.  Bangunan luarnya berkapur putih (dulu berwarna merah jingga).  Hal yang menarik adalah adanya piring-piring porselen asli Tiongkok yang menjadi penghias dinding di semua keraton di Cirebon.


[5] keraton Kasepuhan
Didominasi warna merah bata untuk bagian luar, dan putih untuk bagian dalam.  Ada banyak spot bagus untuk pemotretan disini, meski banyaknya wisatawan kerap mengganggu kekhusyukan memotret ;p


[6] kota tua Cirebon
Termasuk di dalamnya adalah gedung Bank Indonesia, dan PT BAT Indonesia, semuanya merupakan peninggalan bangunan jaman Belanda yang masih terawat baik.


Sebenarnya masih banyak lokasi lain yang patut dikunjungi, namun apa daya waktu berbatas.  
Kami pun meninggalkan Cirebon dengan khazanah baru akan ragam budaya Indonesia tercinta, ditambah perut yang membuncit, bagasi over kuota dengan terasi & kerupuk udang, dan sekontainer batik Trusmi khas Cirebon yang melegenda ;p

Jujur, Dewi Yull sama sekali tak ada lagi dalam benak ;p



all pictures in this album are copyrighted by duaBadai 2009.  allrights reserved.